resolusi

Akhir tahun kemarin agaknya sedikit beda dengan tahun 2015. Tak ada acara melekan nungguin jam. Hanya nunggu kapan sakit kepala dari siang hari segera sembuh.

 

Sering terdengar “apa resolusi mu di tahun 2017”. Untuk orang yang sakit kepala resolusi tahun 2017 jelas sulit menggeser rasa sakit dari kepala.

 

Namun pintu gerbang tujuan resolusi terbuka bukan karena kebetulan. Berawal dari mencari video kajian tentang jodoh bergeser ke parodi DOTS versi islami kemudian bergerak ke video interview Kim Ji-won dan mengalir ke video kembaran Kim Ji-won dari Indonesia yang sedang studi di Jerman, Gita Savitri Devi.

 

Melihat full vlog mbak Gita dalam resolusi 144p demi menghemat kuota tidak mengurangi pesan yang ingin disampaikan. Walaupun mengurangi pesona wajah cantiknya, tapi tetap gerakan penghematan harus tetap berjalan.

 

Singkatnya dari blog itu aku menangkap. Kuliah di luar negeri bukan hanya sekedar mencari gelar dan ijazah, tapi juga membentuk pola pikir dan memperluas sudut pandang.

 

Kuliah di kampus terjelek di Jerman ketika kembali ke Indonesia yang akan dilihat adalah seorang lulusan Jerman bukan lulusan kampusnya. Beda kalau kuliah di negeri sendiri. Pasti ada penilaian jebolan almamater mana.

 

Pendeknya, kalau mau kita setara dengan lulusan luar negeri cukup otak dan pemikiran kita yang dibenahi. Jangan jadi katak dalam tempurung, jangan jadi egois yang mikir untuk diri sendiri.

 

Kadang sempat terbersit “ah hidup udah settle, gaji udah lancar tiap bulan”. Ini yang harus dilawan, jangan sampai kenyamanan membuatmu jadi lupa dengan sekitarmu. Apa yang bisa kamu lakukan untuk keluarga, masyarakat dan negara.

 

Salut dengan akademis yang ada di luar negeri, punya pemikiran semacam itu. Ingin membangun negaranya, tapi apa daya kondisi di Indonesia tidak seperti itu ekosistemnya. Daripada jebolan bimbingan les bahasa asing itu terkontaminasi kembali oleh pola pikir negatif ala Indonesia lebih baik tetap disana dulu sambil ngevlog menebar virus virus pola pemikiran kritis seperti mbak yu Gita Savitri.

 

Kalau udah agak menggurita pemikiran yang baik itu. Bolehlah semua yang diaspora kembali ke tanah air Beta.

Malu dan Kelu

Malu atau lidah kelu bedanya tipis.
Malu untuk bilang nikah yuk
Kelu mau bilang kapan aku bisa ketemu ayah ibu kamu.
Urusan kawin bukan main main, Urusan nglamar bisa bikin gusar
Gak perlu panik, pria yang baik untuk wanita yang baik
Mintalah dengan sopan, buat keluarganya terkesan
Tolaklah dengan halus, jika tak menerima dengan tulus
Saingan dimana-mana tapi tenang jodoh tak akan kemana

Afdeling Bravo GSYM, 9 MEI 2016

Merantau.

Gak kerasa sudah hampir 10 tahun merantau.

Selalu ada yang datang dan pergi.

Perasaan ini mungkin dirasa oleh tiap orang tua yang ditinggal putra putri tuk belajar hidup mandiri.

Saat awal merantau ke malang. Libur di hari sabtu atau senin itu seperti segelas es kopi, segar dan memberi semangat.

Semangat untuk pulang kampung walau perlu hampir 7 jam perjalanan.

Seiring waktu jalan pikir anak rantau mulai berubah. Tiap keluar isi dompet harus ada alasan

Segalanya bisa diproyekin biar dapat duit. Termasuk ngerjain proyek remidial programming vb teman-teman.

Alhamdulillah dari 5 proyek hasilnya cukup mrepet untuk biaya pulang ke kampung halaman saat itu.

Sebetulnya bukan kampung halaman yang dituju oleh para perantau itu, namun menjadi anak yang berbakti dan peduli terhadap orang tua.

Walaupun ada juga yang pulang karena tak punya ATM

Jadi perantau manakah kamu itu.

Cerita Magang Ku

Sudah dua bulan lebih sedikit ku tinggalkan pulau jawa. Semakin lama ku tinggalkan semakin bertambah kerinduan ini.

Untung masih ada orang tua dan kawan kawan yang masih bisa dihubungi untuk mengurangi kerinduan suasana saat di jawa.

Kata sebagian orang, menulis itu tempat berekspresi dan menuangkan gejolak jiwa serta mengasah pemikiran jika dilakukan secara bertanggung jawab.

Mungkin blog adalah media yang tepat untuk mencurahkan itu semua daripada hanya mengirimkan laporan kegiatan 2mingguan ke kantor pusat di jakarta.

So tunggu tulisan mengenai kegiatan magang yang akan segera terbit, entah kapan waktunya.

image

Dari kiri :
Fajar Rukmo A
Bagus Dwi P
Dwi Agus
Dwi Fajar R

Ide-ku untuk PLN | masyarakat pintar listrik

“Jangan cuma listriknya yang pintar.
Tapi masyarakatnya juga ikut pintar”

 

Dalam rangka memperingati hari listrik nasional yang ke 69. mengutip dari situs http://akudanpln.blogdetik.com/

Menyambut Hari Listrik Nasional yang ke-69, PT PLN (Persero) dan BLOGdetik menggelar lomba blog yang bertemakan “IdeKU Untuk PLN” dengan hadiah uang tunai total Rp 40 Juta.

Sebagai seorang yang bergelar sarjana dan blogger yang jarang nge-blog ketika melihat kata hadiah jadi langsung tergerak ingin nge-blog sekaligus mencoba menjawab tantangan dari PT PLN (Persero) dan BLOGdetik untuk memberikan sumbangsih berupa ide segar untuk PLN

Dalam 69 tahun perjalanan PLN disamping prestasi dan kemajuan yang ditorehkan secara langsung maupun tidak langsung, tentu saja masih banyak kekurangan dan target yang belum tercapai. Inovasi tiada henti dan sikap tak pernah puas mutlak untuk dimiliki oleh sebuah Perusahaan agar mampu menelurkan inovasi-inovasi tiada henti.

Berhubung saya adalah lulusan di bidang Elektro, maka kali ini saya akan lebih memberikan saran yang sifatnya teknis. meskipun gak teknis-teknis banget. Walaupun tulisan ini ditujukan untuk lomba yang diadakan PT PLN (Persero) dan BLOGdetik , tapi tidak menutup kemungkinan dibaca oleh blogger-blogger lain terutama peserta kontes “ideku untuk PLN” buat cari inspirasi, maka saya akan berusaha semoga tulisan ini bisa diterima khalayak luas 😀

Rasio Elektrifikasi

Masalah rasio elektrifikasi yang masih rendah menjadi salah satu isu utama bagi PLN. Mungkin karena akses yang sulit terjangkau dan biaya distribusi dan instalasi yang tinggi menjadi penyebabnya. Dengan adanya puluhan ribu pulau yang ada di Nusantara ini tentu saja pembangunan infrastruktur adalah masalah utama

ilustrasi off-grid

Solusinya adalah menerapkan sistem off-grid pada daerah tertentu yang memang memiliki potensi akan energi yang terbarukan. Sehingga PLN tidak perlu membangun infrastruktur untuk transmisi dan distribusi.

Biaya dari sistem off-grid ini bisa ditekan lagi dengan menggandeng program CSR dari pihak lain. Seperti yang baru saja terjadi di kepulauan Karimun Jawa, http://jateng.tribunnews.com/2014/08/12/jepang-bantu-listrik-tenaga-surya-di-karimunjawa

Biaya tenaga kerja bisa juga diminimalisir dengan menggandeng siswa smk atau mahasiswa untuk membantu dalam proses instalasi bahkan perencanaannya. Hal ini tentu saja akan meningkatkan kualitas dan kemampuan individu dari siswa dan mahasiswa tersebut. Apalagi dengan karakter masyarakat pedesaan yang guyub dan gotong royong program ini akan berjalan dengan cepat. Seperti yang dilakukan oleh mahasiswa UGM tahun lalu yang kebetulan bertempat di Karimun Jawa juga, http://www.tempo.co/read/news/2013/02/23/079463148/Mahasiswa-UGM-Menang-Kompetisi-Energi-Terbarukan

Semoga ane juga bisa menang kontes #ideku untuk PLN hehehe…

Kebutuhan Daya di Daerah Perkotaan

Mengenai kebutuhan daya yang tinggi di daerah perkotaan. PLN sebagai perusahaan kelistrikan milik negara memberikan tips dan trik mengenai cara berhemat energi.

Seperti penggunaan lampu LED, mesin cuci, kulkas, televisi dan peralatan lain yang baru karena umumnya peralatan yang baru mengkonsumsi energi lebih sedikit pada kelas yang sama dibanding perangkat yang lama. Karena menghemat energi 1watt lebih mudah daripada membangkitkan energi 1watt. Seperti penggunaan teknologi inverter yang tentunya jauh lebih irit.

perbedaaan penggunaan daya antara sistem non-inverter dan inverter pada air conditioner

Sayangnya peralatan listrik dengan teknologi terbaru yang biasanya menggunakan semikonduktor adalah beban non-linier yang menyebabkan munculnya harmonisa pada jaringan listrik. Yang tentunya harmonisa ini adalah sesuatu yang merugikan. Tapi tidak perlu khawatir, karena umumnya tiap produsen perangkat tersebut telah melakukan pengujian pada perangkatnya agar kandungan harmonisa yang dihasilkan berada pada batasan yang diperbolehkan. Selain itu PLN pastinya sudah harus mempersiapkan infrastruktur untuk menghadapi efek yang ditimbulkan oleh harmonisa seperti pemasangan filter atau penggunaan jenis trafo dengan K-factor yang sesuai dengan beban.

Selain mengedukasi masyarakat, PLN juga sebaiknya merangkul pemerintah dan instansi lain yang biasanya penggunaan listriknya tinggi seperti lampu penerangan jalan agar supaya ditambahkan perangkat yang mampu mengontrol terang redupnya lampu jalan sesuai kondisi jalan. konsep ini lebih cocok untuk diterapkan di jalan tol tapi tidak mustahil diterapkan di jalanan kota, ya cukup disesuaikan dengan kebutuhan saja. jadi ketika tidak ada mobil yang lewat intensitas cahaya dapat dikurangi sehingga menghemat penggunaan listrik dan biaya yang harus dibayarkan. Ujung-ujungnya PLN juga yang untung karena demand saat peak-time lagi-lagi berkurang, efisiensi pembangkit energi bisa optimal.

ilustrasi smart street lighting system
ilustrasi smart street lighting system

Renewable Energy

Berbicara mengenai kekurangan energi nasional, terutama bagi teman-teman di daerah yang sering kekurangan energi, sering byar pet walaupun berada pada daerah dengan sumber energi yang kaya, isu ini adalah isu yang utama bagi mereka yang masih kekurangan listrik. Seperti teman kuliah saya yang berasal dari Samarinda yang mengatakan kalau listrik disana sering dijatah, padahal Kalimantan merupakan daerah penghasil batu bara yang sering di urbanisasi ke pulau jawa sebagai bahan bakar pembangkit energi. Mirip peribahasa “Ayam mati di lumbung padi” atau “Byar pet walau sudah bayar”.

Sudah saatnya kita beralih ke sumber energi yang terbarukan. isu ini pun sudah sering didengungkan namun masih dalam sebatas wacana tanpa ada harapan. Kita sudah sering mendengar teknologi Solar cell , Turbin Angin , GeoThermal dkk. Padahal masih banyak teknologi energi terbarukan yang lain yang bisa diterapkan di indonesia atau mungkin sangat cocok dengan kondisi geografis indonesia.

Berikut daftar putar yang saya buat di situs youtube mengenai sumber energi terbarukan yang mungkin belum pernah anda ketahui

Ber-migrasi ke sumber energi terbarukan akan sulit dan mahal di investasi awalnya. Namun hal ini dapat dilakukan secara bertahap, memang terasa sulit jika hal ini dilakukan oleh PLN saja, namun beban yang berat ini akan menjadi ringan apabila dilakukan bersama-sama dengan pihak lain. Pencemaran yang dihasilkan dari siklus batubara dan solar dapat berkurang sehingga kualitas udara dapat meningkat dari waktu ke waktu. *sambil berharap kendaraan listrik semakin populer mengalahkan petrol machine

Mungkin PLN dapat bekerja sama dengan Uda Ricky Elson dan kawan-kawan yang sudah sangat bernafsu untuk membuat perkebunan turbin angin di tempat-tempat terpencil. Raga-raga dengan jiwa muda itu pasti akan senang jika dipercaya membantu masalah kelistrikan di Indonesia ini.. *termasuk saya :p

“para penari langit” buatan Ricky Elson

Edukasi

PLN sebagai pihak yang mengerti kelistrikan juga sebaiknya memberi bantuan informasi teknologi kepada masyarakat perkotaan mengenai cara menghasilkan energi sendiri menggunakan solar cell atau turbin angin. Jika masyarakat awam dapat menghasilkan energi sendiri tentunya beban PLN ketika kondisi peak-time akan menurun dan tentu saja efisiensi dari pembangkit akan meningkat. Walaupun untuk hal ini tidak semua masyarakat mampu, setidaknya mereka menjadi educated mengenai listrik.

ilustrasi rumah dengan solar cell dan turbin angin

Memberi arahan bagaimana sistem instalasi rumah terutama pada perumahan baru khususnya perumahan elit yang “harga naik hari senin” agar mampu menghasilkan energi terbarukan. Sedangkan untuk masyarakat kalangan yang sekiranya tidak sanggup untuk mengaplikasikan teknologi renewable energy juga harus diberi di-edukasi mengenai bahaya gangguan korsleting atau kelebihan yang dapat mengakibatkan kebakaran, seperti penggunaan satu stop kontak yang dipakai secara berjamaah atau aksi ala Mc Gyver yang meng-hack sekring yang sudah putus menggunakan kabel serabut ukuran kecil yang pemilihannya berdasar perasaan saja *kalau yang masang lagi galau gimana??. tentu saja hal tersebut sangat berbahaya bukan hanya untuk pelakunya tetapi juga tetangga sekitar.

Karena sudah dipahami bersama bahwa kerugian dari kebakaran lebih banyak daripada biaya untuk pencegahannya. Cara paling gampang tanpa harus mengumpulkan warga kemudian diceramahi adalah.

  1.  Buat iklan (dananya mahal waktunya pendek dan terlalu mainstream)
  2.  Buat sebuah kartu mengenai tips dan trik yang digantung di setiap meteran listrik ya mirip tag-out (dana murah *relatif, nempel terus sampe rusak atau dibuang)

kalau saya pilih opsi nomer 2 karena umumnya orang pasti lihat meteran listrik sebulan sekali, lumayan setiap bulan pelanggan PLN selalu melihat tulisan-tulisan yang “mencerahkan” apalagi kalau diupdate tiap beberapa waktu biar greget dan gak bosen gheetoo… *ngalay dikit

Jika PLN berhasil “membujuk” masyarakat untuk mengembangkan dan merawat energinya sendiri. PLN tinggal mengembangkan kearah teknologi terbaru yaitu smartgrid. Masyarakat bisa menjual kelebihan energinya kepada PLN dengan skema pengurangan nilai kwh meter. Ini akan menjadi prestasi besar di tingkat dunia jika Indonesia menjadi negara pertama pengguna sistem smartgrid di asia tenggara..

Jadi….

Inti dari semua yang saya tekankan adalah edukasi. Bagaimana mentransfer ilmu yang dimiliki PLN kepada masyarakat terlebih kepada tukang bangunan dimana mereka sebagai tonggak instalasi pada setiap rumah. Memang PLN tidak berkewajiban mengurusi ketika listrik sampai kepada pengguna, tetapi pengguna sendirilah yang berkewajiban mengurus dan mengamankanya. Namun jika edukasi dapat membantu meningkatkan kualitas, kuantitas serta efisiensi kelistrikan nasional mengapa tidak?? *PLN jangan lupa hak konsumen lho, kan mereka bayar..

PLN tidak akan bangkrut karena masih banyak pabrik yang membutuhkan PLN dimana operasi industrinya berjalan 24/7 serta harga listrik yang kecil nilai subsidinya atau bahkan tidak disubsidi sama sekali. Pastinya PLN dan anak usaha PLN mendapatkan untung yang bisa dimanfaatkan untuk keperluan keuangan PLN dan anak usahanya. *walaupun sebenarnya gak rugi kalau disubsidi kan subsidi dibayar pemerintah

Masyarakat akan senang karena walaupun PLN mengalami gangguan. Masyarakat masih bisa bertahan untuk beberapa saat karena mampu menghasilkan energi listrik secara mandiri. Malahan mereka bisa membantu PLN untuk menghasilkan tenaga listrik melalui menjual kelebihan energi ke tetangga sebelah atau bahkan ke industri jika memungkinkan. Masyarakat yang well-educated pastinya juga akan lebih aware terhadap bahaya dari listrik. *masyarakat aman dan tenang

Siswa dan mahasiswa bertambah ilmunya. Khususnya dibidang terapan, karena ikut terjun dalam pengembangan energi di daerah terpencil. Mereka pun menjadi tahu bagaimana cara menangani sebuah proyek. *Jangan sampai kepintarannya dibuat ngakalin nilai proyek ya teman-teman dan adik-adikku semua.

Dengan begitu secara tidak langsung penggunaan APBN untuk subsidi listrik bisa berkurang sehingga dapat digunakan untuk pembangunan infrastruktur lainnya. cash-flow yang baik sehingga utang-utang PLN bisa turun dan menghasilkan profit bagi negara.

Walaupun semua saran saya yang telah saya paparkan ini terlalu mainstream atau sudah diketahui oleh tim ahli dari PLN,  harapan saya semoga saran dan kritik dari saya ini dapat ditindak lanjuti demi kemajuan kelistrikan Indonesia pada umumnya dan kemajuan PLN pada khususnya.

Supaya apa ? supaya Tagline PLN yang bertuliskan “Electricity For A Better Life” bisa “dibaca” oleh orang buta huruf sekalipun.

 

*mohon maaf kalau ada kesalahan informasi mungkin saya kurang update terhadap perkembangan kelistrikan di Indonesia, jangan sungkan untuk memberi saran, masukan, kritik di kolom komentar dibawah ya 😀

sumber pustaka :

http://pln.co.id
http://akudanpln.blogdetik.com/
http://en.wikipedia.org/wiki/Off-the-grid
http://www.mraircon.ph/images/pages/original/inverter_vs_non-inverter-1382765438597.jpg
http://jateng.tribunnews.com/2014/08/12/jepang-bantu-listrik-tenaga-surya-di-karimunjawa
http://www.tempo.co/read/news/2013/02/23/079463148/Mahasiswa-UGM-Menang-Kompetisi-Energi-Terbarukan
http://www.diysolarconnection.com/uploads/2/9/5/6/29565325/__8632574_orig.jpg
https://www.facebook.com/ricky.elson/
http://www.youtube.com
http://en.wikipedia.org/wiki/Harmonics_(electrical_power)
http://d1435t697bgi2o.cloudfront.net/wp-content/uploads/2012/09/shutterstock_49070605-l.jpg

 

PID vs Adaptive PID

grafik respon
grafik respon

Gambar diatas adalah grafik respon keluaran dari buck-boost converter dari yang saya buat

Sumbu Y adalah nilai dari target keluaran tegangan yang diatur pada program sebesar 50V
sedangkan sumbu X adalah waktu respon / sampling data tegangan tiap 10mS

Untuk keterangan disamping kanan adalah nilai Konstanta P I dan D secara berurutan. sebagai contoh pada 2,5,1 dapat diartikan P = 2 , I = 5 , D = 1

Dari hasil percobaan dengan nilai P yang rendah pada konstanta 2,5,1 , keluaran tegangan mampu mencapai set point namun waktu yang dibutuhkan paling lama sampai steady state diantara data yang ada.

sedangkan untuk respon yang paling cepat didapatkan pada grafik warna cyan dengan konstanta 50,5,1 namun sayangnya pada saat pengujian keluaran yag diharapkan tidak dapat terpenuhi, begitu juga ketika menggunakan konstanta yang lain.

Nah agar dicapai hasil yang lebih maksimal digunakanlah adaptive PID untuk menggabungkan kelebihan dari masing-masing konstanta tersebut yang menghasilkan grafik dengan hasil yang mendekati set point seperti grafik warna merah dan time response yang cepat seperti warna cyan.

namun dari itu semua saya masih belum paham betul dengan adaptive PID yang sebenarnya menurut ilmu Sistem Kontrol/Kendali mungkin ada yang paham sodara-sodara???